June 18, 2009

Tentang menjadi copywriter berbahasa Indonesia

Aku bisa saja menyimpulkan menjadi copywriter dalam bahasa Indonesia jauh lebih susah daripada menjadi copywriter dalam bahasa Inggris.

Karena bahasanya belum solid, jadi begitu sulit ....
... ketika harus mencarikan nama untuk produk baru,
... mencarikan tagline yang singkat dan bermakna, atau translate tagline,
...ketika harus berbicara pada berbagai macam khalayak masyarakat di Indonesia dengan latar belakang, suku, adat, tingkat intelegensia yang berbeda-beda juga,
... ketika harus menjaga kebakuan bahasa Indonesia, tapi sekaligus harus dalam bahasa sehari-hari yang akrab (pernah terbayang bagaimana kakunya percakapan dalam bahasa Indonesia baku? terdengar sangat asing sampai-sampai hampir seperti berpuisi), sebuah pertentangan antara kewajiban nurani untuk konsisten dengan aturan bahasa yang baik dan benar, dan kemungkinan bahwa audience malah tidak bisa memahami tuturan kita ...
... ketika harus menterjemahkan dari/ke bahasa lain dan menemukan beberapa kata tak punya terjemahan dengan arti yang persis sama,
... atau karena tiba2 hasil terjemahan dalam bahasa Indonesia menjadi begitu panjang karena bahasa Inggrisnya cuman 1-2 suku kata sedangkan terjemahan bahasa Indonesianya bisa sampai 3-5 suku kata ... kemudian ketika dimasukkan ke dalam lay-out desain jadi tidak cukup ....

Apa memang dalam evolusinya bahasa Indonesia secara alami menciptakan tingkatan-tingkatan penggunaannya sendiri?
seperti bahasa jawa krama dan jawa ngoko ... bahasa indonesia baku tidak terasa asing ketika digunakan dalam iklan-iklan korporat ... tapi ketika berbicara pada masyarakat langsung, bahasa indonesia sehari-hari pun dirasa kurang cukup ... apalagi ketika iklan konsumen tayang di daerah non-Jakarta ...

ketika iklan dicipta untuk konsumen ABG, gak bakal nyambung kalau gak pake bahasa gaul jakarta ala 'loe-gue' ... tapi jarang ada klien yang cuman mau bikin iklan untuk konsumen ABG di jakarta aja ... ketika iklan itu tayang sampai ke daerah lain di Indonesia dan dilihat oleh ABG Palu atau Ternate misalnya, apakah mereka mengerti? apakah pesannya sampai?

Generalisasi iklan yang aku lihat dengan mata kepalaku sendiri terasa memuakkan ...
seakan meremehkan keberadaan dan kemajemukan masyarakat Indonesia ... ke-bhineka-an bahasa, budaya dan nilai-nilai seakan tak ada ...

Aku sadar klien mungkin tak bermaksud demikian ... hanya karena budget marketing terbatas, terpaksalah mereka pukul rata ... mungkin mereka menyadari komunikasi mereka hanya bisa diserap optimal di kota besar Indonesia (baca: Jakarta) dan ketika berkomunikasi di daerah lainnya, hanya mengandalkan sisi 'awareness' dari keseluruhan AIDA ...

Aku sadar rekan-rekan pengiklan juga tak bermaksud demikian ... karena bahasa Indonesia baku yang menjadi alat pemersatu bahasa masyarakat yang majemuk ini pun ternyata kurang akrab di telinga kebanyakan masyarakat ...

Aku jadi iri dengan biro iklan di luar negeri yang tak hanya terpusat di satu kota saja ...
Ambil contoh di Amerika Serikat sebagai pusatnya komersialisme ... biro iklan yang besar dan terkenal tidak cuma ada di madisson avenue NY saja ... sebut saja Leo Burnett yang base nya di Chicago (afaik) ... Crispin Porter Bogusky yang base di Miami ... Fallon yang base nya di Minneapolis dst
Padahal mereka berkomunikasi dalam 1 bahasa Inggris yang sudah solid dan mendunia ...

Aku pikir tersebarnya biro iklan di Amerika Serikat, selain karena unsur human resource dan ekonominya, juga karena mereka percaya dengan berada dekat dengan masyarakat suatu daerah, mereka bisa lebih dapat insightnya, lebih fokus sehingga komunikasi (dan persuasi) lebih efektif ...

Aku tidak bilang kalau biro iklan di Indonesia harus tersebar di seluruh nusantara sih ... (kalau ada yang begitu pun, meski mereka punya bargaining power dalam hal keefektifan komunikasi, tapi biaya operasionalnya pasti tinggi) ... hanya berharap, selain dikerjakan oleh art director, copywriter, group head, creative director dan strategic planner, seorang antropolog/ cultural consultant juga terlibat di dalamnya ...

Tapi cari orang seperti itu dimana ya?

May 26, 2009

Kesian amat ini blog, review buku aja dah!

Gila! baru nyadar ini blog kesian amat yah?
Kayaknya anak tiri banget sama blog ku yang satunya ... Link
ato mungkin pertanda aku semakin bodoh saja ... jadi semakin nggak cari ilmu ... semakin nggak bagi ilmu ...

in the mean while aku posting recommended books aja yah ...

sekarang ini aku lagi nabung buat beli buku Conversational Capital
by Bertrand Cesvet, Tony Babinski, Eric Alper (orang2 dengan nama aneh, dan foto yang suspiciously gay, but turn out to be straight ... i wonder is there any problem with my 'gay-dar') ... bagian dari sebuah small-but-powerfull agency bernama Sid Lee yang klien2nya termasuk Cirque du Soleil, Adidas, Red Bull (Kratingdaeng di Indonesia) dan MGM Mirage

kenapa?

karena buku ini membahas tentang "how to" nya intentional word of mouth marketing ...
... seperti judulnya, menciptakan pembicaraan yang punya daya komersil.
... dan di negara-negara barat, dimana TVC-Print ad-Radio ... bahkan internet sudah tidak diagung-agungkan lagi ... agency yang berhasil menciptakan word-of-mouth dengan implikasi bisnis positif lah yang dianggap jagoan ...

Kata temenku yang sedang membaca buku ini, seperti buku sambungan dari Tipping Pointnya Malcolm Gladwell. Kalo Tipping Point itu membahas tentang 'anatomi' sebuah word of mouth marketing dan beberapa contoh kasusnya, ... ini adalah cara2 praktis dalam mengaplikasikannya. Tapi apa iya bisa segitu gampangnya bikin word of mouth marketing sampe bisa dibikin buku 'how to'nya?

Dying Earth

Dying earth adalah video yang aku buat untuk Youtube Cannes Young Lion video & viral competition.

Hmm memang ada motif dalam hati pengen menang lomba Cannes Young Lion dalam membuat video ini ... secara, ... sebagai orang yang bekerja di industri periklanan, siapa yang nggak bangga dapat nominasiii aja (nggak usah awardnya juga nggak papa) ... Cannes Lion lagi ...
Cuman kayaknya melihat betapa amatirnya hasil videoku dibanding peserta lain, yah, aku cukup senang kok hanya dengan berpartisipasi ... dengan ikutan aja, banyak hal yang aku pelajari maupun hal-hal yang baru aku tahu bahwa aku harus mempelajarinya .. (nah loh?)

Tapi cause yang dipakai juga sangat mengena ... at least buat aku pribadi
Saat sabtu pagi aku melihat brief ini di youtube, bukan saja bagian multi-talented wannabe baboon dari diriku ato bagian seasonal environmentalist aja yang merasa terpanggil ... tapi diriku sendiri sebagai manusia juga terpanggil ...

Ini adalah panggilan terakhir kepada seluruh manusia, untuk menentukan ke arah mana pesawat yang kita kendarai bersama ini akan menuju ... surga (dengan menyetujui peraturan lingkungan yang lebih ketat dari piagam Kyoto) atau neraka (membiarkan negara2 industri mempengaruhi keputusan sehingga polusi makin tidak terkendali) ...
dan panggilan terakhir itu bernama UN Climate Change Summit yang akan diadakan di Copenhagen bulan Desember 2009.

Bahkan sebelum bikin video ini pun, aku sempatkan untuk mendaftarkan diriku sendiri dalam petisi Oxfam ini.

Mungkin secara kreatifitas konsep dan ide masih kurang lah ...
Tapi aku membuat video ini bukan karena ingin pamer kreatifitas (yang sebenernya nggak seberapa juga sih) ...

Aku membuat video ini hanya karena ingin menyampaikan sebuah pesan ...
bahwa Bumi ini telah sampai di titik hidup dan mati, ... dan saatnya kita benar-benar bertindak untuk menolongnya ...

Jadi untuk siapa saja yang mengunjungi postingan ini, ... coba deh lihat video saya, dan kunjungi link ke oxfam, ... daftarkan namamu disana dan pastikan dirimu mengambil bagian dari usaha untuk menolong bumi kita semua.

Terima kasih.

March 04, 2009

Economy after crisis (part 2)

... this is just one of my bathroom epiphany though...
Mengingat prediksi bagaimana ntar bisnis yang bertahan hanya yang the really powerfull giants dan the really agile micros ... dan juga karena aku into conspiracy theory ...

Mungkin nggak sih kalau semua ini sudah direncanakan? Terutama oleh those powerfull giants ... maksudku, para pelaku bisnis disana kan udah pasti punya degrees in economics and/or management ... masa segitu bodohnya dalam management sampe put their company in jeopardy?

Bagaimana jika jatuhnya Lehman Brothers memang disengaja?

Kita semua tahu ekonomi di dunia barat sudah stagnan. Tidak ada pertumbuhan berarti karena pasarnya udah stagnan. Bisnis stuck di point itu. Mereka kemudian menjadi kapitalis di negara-negara berkembang seperti Indonesia, Filipina, Malaysia, Thailand yang pasarnya masih tumbuh, thanks to its huge population and natural resources. Tapi ada macan2 ekonomi asia. China, Korea, Jepang dan India. Produk2 mereka cukup kompetitif dan secara lokasi lebih dekat ke market negara-negara berkembang itu.
Product, Price dan Place udah ga bisa bersaing. Masa bisa menang di Promotion thok?

Akhirnya as an act of despair, mereka mengguncang ekonomi sekali lagi. Merontokkan giants2 yang keropos dan menyingkirkan mediocre2 yang nggak perlu supaya ketika economy udah stable lagi. These powerfull giants bisa mencaplok pasar2 dan ruang bisnis2 yang udah agak lega. Mengembangkan bisnis mereka sekali lagi.
Hmmm should I call this strategy "Turning red ocean into blue ocean"? hahaha
gila emang ... yeah but that's just my theory. a rationalised imagination.

kejam? yah, bisnis emang kejam nak.

gimana dengan jutaan orang yang terancam pekerjaannya? ah emang mereka pikirin? kan those elite ones nggak terlalu terganggu dengan krisis begini.

serakah? pasti!

Makanya ... yang kaya makin kaya ... yang miskin makin miskin ...
gila!

February 27, 2009

Economy after crisis ...

Seorang teman cerita, banyak perusahaan-perusahaan di negara maju (as dan eropa) yang kolaps. Terutama yang medium-sized company. Obvious. Perusahaan micro sangat fleksibel menghadapi dinamika ekonomi yang gila ini. Sementara the "giants" punya fondasi finansial dan network yang kuat. Yang jadi masalah ya medium-sized company ini. Mereka terlalu besar untuk lincah menangkis gelombang2 ekonomi yang tidak menentu. Tapi terlalu kecil untuk menghadapi the economic's tsunami.

Aku jadi ingat, dulu pernah dengarkan ceramahnya pak san (my ex boss) tentang ramalan ekonomi masa depan (apakah diambil dari buku long tail ya?). Mediocre is a no-no ... Lalu, apakah ekonomi kita sedang dalam proses untuk membuktikan asumsi itu?

Produk harus berada di salah satu polar ekonomi. Sementara kualitas adalah suatu hal yang tak perlu di pertanyakan lagi ... karakter produk harus bener-bener mass dan murah atau bener-bener eksklusif dan mahal. There's no in between stuff. Or at least they wont survive for long.

... hmm ... thesis yang menarik ...
i'll go googling and come back to this another day ...

November 12, 2008

Push the button

Sekilas tentang Hot Button Marketingnya Barry Feig.
Buku ini mengulas tentang 'pintu' apa aja yang bisa dimasuki para marketer untuk mendapatkan perhatian penuh konsumennya.
Kalau dihubungkan dengan the notorious AIDA (Attention, Interest, Desire, Action) ... ke 16 Hot Button ini mengulik tentang aspek-aspek kebutuhan psikologis yang bisa nyenggol somewhere between Interest dan Desire (yang sebenarnya buat aku agak2 ga jelas juga batesannya dimana).

The buttons are ...
#1 Desire for control
#2 I'm better than you
#3 Excitement for discovery
#4 Revaluing
#5 Family values
#6 Desire to belong
#7 Fun (is it's own reward)
#8 Poverty of time
#9 Desire to get the best
#10 Self-achievement
#11 Sex, Love, Romance
#12 Nurturing response
#13 Re-inventing one-self
#14 Make me smarter
#15 Power, Dominance, Influence
#16 Wish fulfillment

Beberapa aspek dari button-button ini memang sepertinya overlapping in a way, tapi dibedakan juga akhirnya untuk alasan yang tepat, yang aku duga supaya nggak asal pukul rata (generalisasi). Bagusnya, aspek-aspek button ini lumayan applicable melewati batas budaya dan karakteristik suatu bangsa, karena ini menyangkut basic human desire.
Tapi human desire kan nggak mungkin cuman 16 ini aja, yang berarti kemungkinan untuk mengeksplor celah-celah menuju perhatian konsumen itu tanpa batas, seluas dan sekompleks dimensi psikologis manusia.
Nevertheless, gagasan Barry Feig ini bisa jadi inspirasi untuk menformulasikan strategi marketing yang lebih tepat sasaran.
Sekarang tinggal pilih, mau tekan button yang mana yang cocok dengan karakteristik produk dan karakteristik market.

October 15, 2008

Dentsu juga bikin video klip musik?

link: http://creativity-online.com/work/view?seed=7b49b2a7

AFAIK, Dentsu adalah salah satu giant agency periklanan dunia.
Tapi baru tahu juga kalau mereka juga bikin video klip, dalam hal ini untuk grup musik jepang Asian Kungfu Generation.
Bagian diversifikasi usaha?? atau mungkin Dentsu Jepang tidak hanya membatasi diri dalam hal iklan aja ... tapi semua hal yang membutuhkan kreatifitas dikerjain semua.

Atau ... jangan-jangan video klip di Jepang dikategorikan dalam iklan juga ...
(kalo dipikir-pikir bener juga dong, video klip musik itu kan mempromosikan musisi yang bersangkutan ... orang Jepang aja nyebut video klip sebagai PV; Promotion Video)

Tapi kalo diinget-inget, kalo liat Anime (film kartun jepang) dan beberapa Film seri Dorama Jepang suka liat ada logo Dentsu disana.
Sbenernya segede apa ya korporasi Dentsu di negeri asalnya? ... jadi ngeri mbayanginnya.
.... browsing lagi ah

July 09, 2008

[case study] Zuji: marketing madness or innovation??

Ada yang pernah dengar Zuji, Online Travel Company???
sebagian besar orang yang hidup di Indonesia mungkin belum pernah

But this company is crazy!

pertama-tama lihat apa yang mereka lakukan disini (Creativity.com)

kalo males buka linknya, ceritanya gini ...
Zuji the Online Travel Company (Australia) yang ditangani oleh agency bernama The Hallway/Happy Soldiers membuat produk baru sebagai bagian dari communication campaign mereka ...
big idea nya Zuji, helping holidays happen (which, by all means is a great great tagline ... I love it)
tapi aku pikir dalam hal ini mereka mengeksekusi ide sampai ke tahap kegilaan!!!

Mending kalo produk baru mereka sesuatu yang masih berhubungan dengan core business, yaitu Travel (pariwisata) ... but instead, they launch Zuji Bean! yup, bean as in kacang ...
I dont get it ... if somebody get it please tell me ...

meskipun tujuan akhirnya adalah menginisiasikan trickle down effect -- agar orang2 bisa berhemat sehingga punya tabungan untuk pergi liburan -- memproduksi sesuatu yang jauh berbeda dari core business itu sesuatu yang sangat beresiko besar ... and why beans???? (dan katanya setelah ini mereka juga akan menjual pasta gigi dan toilet paper)

dan bagaimana mereka bisa mengeluarkan produk baru dengan harga sangat SANGAT MURAH (sekitar 10 cent/can!!!), how about cost production? kayaknya cost production sekaleng kacang lebih dari 10 cent, mengingat food crisis yang mulai menjadi-jadi, trus subsidi silang darimana?
apakah mereka berharap modal untuk memproduksi beribu-ribu kaleng kacang bisa kembali dari jumlah orang yang berlibur lewat jasa mereka??? that is so naive

pertama-tama, tidak semua orang berhemat demi liburan .... ada yang berhemat untuk membeli sesuatu yang mereka inginkan, .... ada yang berhemat untuk masa depan ... ada yang berhemat untuk investasi ....

kedua, demi memasarkan produk baru ini mereka juga mengeluarkan biaya promosi yang nggak sedikit ... touch point untuk pemasaran kacang ini juga banyak ... Zuji beans shop + SPG nya, print, outdoor, online, radio ... semuanya atas nama big idea "Helping Holidays Happen"
gimana dengan ROI dari semua promosi ini? mau jalan berapa tahun baru bisa balik modal??

Siapapun yang punya Zuji ini pasti sudah gila, atau 'diplomasi lembah hitam' dari agencynya bener2 ciamik sampai mereka mau eksekusi sejauh ini, segila ini ...
Atau ini bagian dari strategi Blue Ocean?

Simak copynya ...
Zuji the online travel company
believe people should take more holidays

so they decided to create everyday products and sell them at a ridiculously low price
so people could save more money for their holiday

the first
thing they made were baked beans and sold them for just 10c a can
they made thousands and thousands of cans of beans

then set up Zuji beans shop all around the country

all they sold were Zuji beans for 10c

they did print, outdoor, online and radio to let people know
in one week over 10 000 beans were sold
and people were saving for a holiday

all because a can of beans

and beans are only the start
Zuji. helping holidays happen.



my comment; okay, you're selling more beans, but how about your travel service? that's the whole point why you're doing all this thing isn't it?

dan beberapa screen shots dari TVC ... yang aku rasa bukan ditujukan untuk end-consumer, tapi lebih untuk pamer ke marketing/advertising people.... poor direction though, gambarnya terlalu sering goyang dan nggak fokus ...