Don't trust the media ...
That saying is even true than ever ...
They buy everything for the success of their program ... for their rating ...
They made reality show ... but it isn't actually a reality ... it's just a show made of the exagerrate act from unpopular cast ... they even shoot one of the scene in my office and re-take them over and over again for such a simple scene ...
They even buy the audience ...
Did you see the music shows that're popular in many Indonesian television these days?
Did you notice that some of the audience repetitively appear in several shows/ different television?
They made of group of 'professional audience'. They're paid to be an active and cheerful audience ... They have their own 'audience management' (as celebrities have their artist management) ...
Their expression is not real ... what you see in television is only a fake audience ...
... and don't forget people who's been demonstrating on the street ...
they have the 'demonstration organiser" ...
Don't trust what you see on the media ...
So when I saw the 'drama' of police and special forces attacking a small house in Temanggung, Central Java, ... and somebody who's believed to be Indonesian's #1 fugitive is surrounded and shot to death ...
I just can't believe that easily ...
August 10, 2009
August 05, 2009
Keragaman VS Keberagaman
Keragaman ada di KBBI dan merupakan kata benda ...
ke·ra·gam·an n perihal beragam-ragam, berjenis-jenis; perihal ragam; perihal jenis;
Keberagaman tidak ada di KBBI
Tapi kenapa ya tiap kali aku ketemu kata ini, meskipun dianggap salah (bukan EYD) aku merasa bahwa dia adalah kata sifat.
Keberagaman -yang sejatinya memiliki sifat sangat beragam ... seperti ... seperti kita, masyarakat Indonesia!
Apakah kata keberagaman adalah bentuk singkat dari keaneka-ragaman?
Ayo ahli bahasa, saya bertanya!
ke·ra·gam·an n perihal beragam-ragam, berjenis-jenis; perihal ragam; perihal jenis;
Keberagaman tidak ada di KBBI
Tapi kenapa ya tiap kali aku ketemu kata ini, meskipun dianggap salah (bukan EYD) aku merasa bahwa dia adalah kata sifat.
Keberagaman -yang sejatinya memiliki sifat sangat beragam ... seperti ... seperti kita, masyarakat Indonesia!
Apakah kata keberagaman adalah bentuk singkat dari keaneka-ragaman?
Ayo ahli bahasa, saya bertanya!
June 18, 2009
Tentang menjadi copywriter berbahasa Indonesia
Aku bisa saja menyimpulkan menjadi copywriter dalam bahasa Indonesia jauh lebih susah daripada menjadi copywriter dalam bahasa Inggris.
Karena bahasanya belum solid, jadi begitu sulit ....
... ketika harus mencarikan nama untuk produk baru,
... mencarikan tagline yang singkat dan bermakna, atau translate tagline,
...ketika harus berbicara pada berbagai macam khalayak masyarakat di Indonesia dengan latar belakang, suku, adat, tingkat intelegensia yang berbeda-beda juga,
... ketika harus menjaga kebakuan bahasa Indonesia, tapi sekaligus harus dalam bahasa sehari-hari yang akrab (pernah terbayang bagaimana kakunya percakapan dalam bahasa Indonesia baku? terdengar sangat asing sampai-sampai hampir seperti berpuisi), sebuah pertentangan antara kewajiban nurani untuk konsisten dengan aturan bahasa yang baik dan benar, dan kemungkinan bahwa audience malah tidak bisa memahami tuturan kita ...
... ketika harus menterjemahkan dari/ke bahasa lain dan menemukan beberapa kata tak punya terjemahan dengan arti yang persis sama,
... atau karena tiba2 hasil terjemahan dalam bahasa Indonesia menjadi begitu panjang karena bahasa Inggrisnya cuman 1-2 suku kata sedangkan terjemahan bahasa Indonesianya bisa sampai 3-5 suku kata ... kemudian ketika dimasukkan ke dalam lay-out desain jadi tidak cukup ....
Apa memang dalam evolusinya bahasa Indonesia secara alami menciptakan tingkatan-tingkatan penggunaannya sendiri?
seperti bahasa jawa krama dan jawa ngoko ... bahasa indonesia baku tidak terasa asing ketika digunakan dalam iklan-iklan korporat ... tapi ketika berbicara pada masyarakat langsung, bahasa indonesia sehari-hari pun dirasa kurang cukup ... apalagi ketika iklan konsumen tayang di daerah non-Jakarta ...
ketika iklan dicipta untuk konsumen ABG, gak bakal nyambung kalau gak pake bahasa gaul jakarta ala 'loe-gue' ... tapi jarang ada klien yang cuman mau bikin iklan untuk konsumen ABG di jakarta aja ... ketika iklan itu tayang sampai ke daerah lain di Indonesia dan dilihat oleh ABG Palu atau Ternate misalnya, apakah mereka mengerti? apakah pesannya sampai?
Generalisasi iklan yang aku lihat dengan mata kepalaku sendiri terasa memuakkan ...
seakan meremehkan keberadaan dan kemajemukan masyarakat Indonesia ... ke-bhineka-an bahasa, budaya dan nilai-nilai seakan tak ada ...
Aku sadar klien mungkin tak bermaksud demikian ... hanya karena budget marketing terbatas, terpaksalah mereka pukul rata ... mungkin mereka menyadari komunikasi mereka hanya bisa diserap optimal di kota besar Indonesia (baca: Jakarta) dan ketika berkomunikasi di daerah lainnya, hanya mengandalkan sisi 'awareness' dari keseluruhan AIDA ...
Aku sadar rekan-rekan pengiklan juga tak bermaksud demikian ... karena bahasa Indonesia baku yang menjadi alat pemersatu bahasa masyarakat yang majemuk ini pun ternyata kurang akrab di telinga kebanyakan masyarakat ...
Aku jadi iri dengan biro iklan di luar negeri yang tak hanya terpusat di satu kota saja ...
Ambil contoh di Amerika Serikat sebagai pusatnya komersialisme ... biro iklan yang besar dan terkenal tidak cuma ada di madisson avenue NY saja ... sebut saja Leo Burnett yang base nya di Chicago (afaik) ... Crispin Porter Bogusky yang base di Miami ... Fallon yang base nya di Minneapolis dst
Padahal mereka berkomunikasi dalam 1 bahasa Inggris yang sudah solid dan mendunia ...
Aku pikir tersebarnya biro iklan di Amerika Serikat, selain karena unsur human resource dan ekonominya, juga karena mereka percaya dengan berada dekat dengan masyarakat suatu daerah, mereka bisa lebih dapat insightnya, lebih fokus sehingga komunikasi (dan persuasi) lebih efektif ...
Aku tidak bilang kalau biro iklan di Indonesia harus tersebar di seluruh nusantara sih ... (kalau ada yang begitu pun, meski mereka punya bargaining power dalam hal keefektifan komunikasi, tapi biaya operasionalnya pasti tinggi) ... hanya berharap, selain dikerjakan oleh art director, copywriter, group head, creative director dan strategic planner, seorang antropolog/ cultural consultant juga terlibat di dalamnya ...
Tapi cari orang seperti itu dimana ya?
Karena bahasanya belum solid, jadi begitu sulit ....
... ketika harus mencarikan nama untuk produk baru,
... mencarikan tagline yang singkat dan bermakna, atau translate tagline,
...ketika harus berbicara pada berbagai macam khalayak masyarakat di Indonesia dengan latar belakang, suku, adat, tingkat intelegensia yang berbeda-beda juga,
... ketika harus menjaga kebakuan bahasa Indonesia, tapi sekaligus harus dalam bahasa sehari-hari yang akrab (pernah terbayang bagaimana kakunya percakapan dalam bahasa Indonesia baku? terdengar sangat asing sampai-sampai hampir seperti berpuisi), sebuah pertentangan antara kewajiban nurani untuk konsisten dengan aturan bahasa yang baik dan benar, dan kemungkinan bahwa audience malah tidak bisa memahami tuturan kita ...
... ketika harus menterjemahkan dari/ke bahasa lain dan menemukan beberapa kata tak punya terjemahan dengan arti yang persis sama,
... atau karena tiba2 hasil terjemahan dalam bahasa Indonesia menjadi begitu panjang karena bahasa Inggrisnya cuman 1-2 suku kata sedangkan terjemahan bahasa Indonesianya bisa sampai 3-5 suku kata ... kemudian ketika dimasukkan ke dalam lay-out desain jadi tidak cukup ....
Apa memang dalam evolusinya bahasa Indonesia secara alami menciptakan tingkatan-tingkatan penggunaannya sendiri?
seperti bahasa jawa krama dan jawa ngoko ... bahasa indonesia baku tidak terasa asing ketika digunakan dalam iklan-iklan korporat ... tapi ketika berbicara pada masyarakat langsung, bahasa indonesia sehari-hari pun dirasa kurang cukup ... apalagi ketika iklan konsumen tayang di daerah non-Jakarta ...
ketika iklan dicipta untuk konsumen ABG, gak bakal nyambung kalau gak pake bahasa gaul jakarta ala 'loe-gue' ... tapi jarang ada klien yang cuman mau bikin iklan untuk konsumen ABG di jakarta aja ... ketika iklan itu tayang sampai ke daerah lain di Indonesia dan dilihat oleh ABG Palu atau Ternate misalnya, apakah mereka mengerti? apakah pesannya sampai?
Generalisasi iklan yang aku lihat dengan mata kepalaku sendiri terasa memuakkan ...
seakan meremehkan keberadaan dan kemajemukan masyarakat Indonesia ... ke-bhineka-an bahasa, budaya dan nilai-nilai seakan tak ada ...
Aku sadar klien mungkin tak bermaksud demikian ... hanya karena budget marketing terbatas, terpaksalah mereka pukul rata ... mungkin mereka menyadari komunikasi mereka hanya bisa diserap optimal di kota besar Indonesia (baca: Jakarta) dan ketika berkomunikasi di daerah lainnya, hanya mengandalkan sisi 'awareness' dari keseluruhan AIDA ...
Aku sadar rekan-rekan pengiklan juga tak bermaksud demikian ... karena bahasa Indonesia baku yang menjadi alat pemersatu bahasa masyarakat yang majemuk ini pun ternyata kurang akrab di telinga kebanyakan masyarakat ...
Aku jadi iri dengan biro iklan di luar negeri yang tak hanya terpusat di satu kota saja ...
Ambil contoh di Amerika Serikat sebagai pusatnya komersialisme ... biro iklan yang besar dan terkenal tidak cuma ada di madisson avenue NY saja ... sebut saja Leo Burnett yang base nya di Chicago (afaik) ... Crispin Porter Bogusky yang base di Miami ... Fallon yang base nya di Minneapolis dst
Padahal mereka berkomunikasi dalam 1 bahasa Inggris yang sudah solid dan mendunia ...
Aku pikir tersebarnya biro iklan di Amerika Serikat, selain karena unsur human resource dan ekonominya, juga karena mereka percaya dengan berada dekat dengan masyarakat suatu daerah, mereka bisa lebih dapat insightnya, lebih fokus sehingga komunikasi (dan persuasi) lebih efektif ...
Aku tidak bilang kalau biro iklan di Indonesia harus tersebar di seluruh nusantara sih ... (kalau ada yang begitu pun, meski mereka punya bargaining power dalam hal keefektifan komunikasi, tapi biaya operasionalnya pasti tinggi) ... hanya berharap, selain dikerjakan oleh art director, copywriter, group head, creative director dan strategic planner, seorang antropolog/ cultural consultant juga terlibat di dalamnya ...
Tapi cari orang seperti itu dimana ya?
May 26, 2009
Kesian amat ini blog, review buku aja dah!
Gila! baru nyadar ini blog kesian amat yah?
Kayaknya anak tiri banget sama blog ku yang satunya ...
ato mungkin pertanda aku semakin bodoh saja ... jadi semakin nggak cari ilmu ... semakin nggak bagi ilmu ...
in the mean while aku posting recommended books aja yah ...
sekarang ini aku lagi nabung buat beli buku Conversational Capital
by Bertrand Cesvet, Tony Babinski, Eric Alper (orang2 dengan nama aneh, dan foto yang suspiciously gay, but turn out to be straight ... i wonder is there any problem with my 'gay-dar') ... bagian dari sebuah small-but-powerfull agency bernama Sid Lee yang klien2nya termasuk Cirque du Soleil, Adidas, Red Bull (Kratingdaeng di Indonesia) dan MGM Mirage
kenapa?
karena buku ini membahas tentang "how to" nya intentional word of mouth marketing ...
... seperti judulnya, menciptakan pembicaraan yang punya daya komersil.
... dan di negara-negara barat, dimana TVC-Print ad-Radio ... bahkan internet sudah tidak diagung-agungkan lagi ... agency yang berhasil menciptakan word-of-mouth dengan implikasi bisnis positif lah yang dianggap jagoan ...
Kata temenku yang sedang membaca buku ini, seperti buku sambungan dari Tipping Pointnya Malcolm Gladwell. Kalo Tipping Point itu membahas tentang 'anatomi' sebuah word of mouth marketing dan beberapa contoh kasusnya, ... ini adalah cara2 praktis dalam mengaplikasikannya. Tapi apa iya bisa segitu gampangnya bikin word of mouth marketing sampe bisa dibikin buku 'how to'nya?
Kayaknya anak tiri banget sama blog ku yang satunya ...

ato mungkin pertanda aku semakin bodoh saja ... jadi semakin nggak cari ilmu ... semakin nggak bagi ilmu ...
in the mean while aku posting recommended books aja yah ...
sekarang ini aku lagi nabung buat beli buku Conversational Capital by Bertrand Cesvet, Tony Babinski, Eric Alper (orang2 dengan nama aneh, dan foto yang suspiciously gay, but turn out to be straight ... i wonder is there any problem with my 'gay-dar') ... bagian dari sebuah small-but-powerfull agency bernama Sid Lee yang klien2nya termasuk Cirque du Soleil, Adidas, Red Bull (Kratingdaeng di Indonesia) dan MGM Mirage
kenapa?
karena buku ini membahas tentang "how to" nya intentional word of mouth marketing ...
... seperti judulnya, menciptakan pembicaraan yang punya daya komersil.
... dan di negara-negara barat, dimana TVC-Print ad-Radio ... bahkan internet sudah tidak diagung-agungkan lagi ... agency yang berhasil menciptakan word-of-mouth dengan implikasi bisnis positif lah yang dianggap jagoan ...
Kata temenku yang sedang membaca buku ini, seperti buku sambungan dari Tipping Pointnya Malcolm Gladwell. Kalo Tipping Point itu membahas tentang 'anatomi' sebuah word of mouth marketing dan beberapa contoh kasusnya, ... ini adalah cara2 praktis dalam mengaplikasikannya. Tapi apa iya bisa segitu gampangnya bikin word of mouth marketing sampe bisa dibikin buku 'how to'nya?
Dying Earth
Dying earth adalah video yang aku buat untuk Youtube Cannes Young Lion video & viral competition.
Hmm memang ada motif dalam hati pengen menang lomba Cannes Young Lion dalam membuat video ini ... secara, ... sebagai orang yang bekerja di industri periklanan, siapa yang nggak bangga dapat nominasiii aja (nggak usah awardnya juga nggak papa) ... Cannes Lion lagi ...
Cuman kayaknya melihat betapa amatirnya hasil videoku dibanding peserta lain, yah, aku cukup senang kok hanya dengan berpartisipasi ... dengan ikutan aja, banyak hal yang aku pelajari maupun hal-hal yang baru aku tahu bahwa aku harus mempelajarinya .. (nah loh?)
Tapi cause yang dipakai juga sangat mengena ... at least buat aku pribadi
Saat sabtu pagi aku melihat brief ini di youtube, bukan saja bagian multi-talented wannabe baboon dari diriku ato bagian seasonal environmentalist aja yang merasa terpanggil ... tapi diriku sendiri sebagai manusia juga terpanggil ...
Ini adalah panggilan terakhir kepada seluruh manusia, untuk menentukan ke arah mana pesawat yang kita kendarai bersama ini akan menuju ... surga (dengan menyetujui peraturan lingkungan yang lebih ketat dari piagam Kyoto) atau neraka (membiarkan negara2 industri mempengaruhi keputusan sehingga polusi makin tidak terkendali) ...
dan panggilan terakhir itu bernama UN Climate Change Summit yang akan diadakan di Copenhagen bulan Desember 2009.
Bahkan sebelum bikin video ini pun, aku sempatkan untuk mendaftarkan diriku sendiri dalam petisi Oxfam ini.
Mungkin secara kreatifitas konsep dan ide masih kurang lah ...
Tapi aku membuat video ini bukan karena ingin pamer kreatifitas (yang sebenernya nggak seberapa juga sih) ...
Aku membuat video ini hanya karena ingin menyampaikan sebuah pesan ...
bahwa Bumi ini telah sampai di titik hidup dan mati, ... dan saatnya kita benar-benar bertindak untuk menolongnya ...
Jadi untuk siapa saja yang mengunjungi postingan ini, ... coba deh lihat video saya, dan kunjungi link ke oxfam, ... daftarkan namamu disana dan pastikan dirimu mengambil bagian dari usaha untuk menolong bumi kita semua.
Terima kasih.
Hmm memang ada motif dalam hati pengen menang lomba Cannes Young Lion dalam membuat video ini ... secara, ... sebagai orang yang bekerja di industri periklanan, siapa yang nggak bangga dapat nominasiii aja (nggak usah awardnya juga nggak papa) ... Cannes Lion lagi ...
Cuman kayaknya melihat betapa amatirnya hasil videoku dibanding peserta lain, yah, aku cukup senang kok hanya dengan berpartisipasi ... dengan ikutan aja, banyak hal yang aku pelajari maupun hal-hal yang baru aku tahu bahwa aku harus mempelajarinya .. (nah loh?)
Tapi cause yang dipakai juga sangat mengena ... at least buat aku pribadi
Saat sabtu pagi aku melihat brief ini di youtube, bukan saja bagian multi-talented wannabe baboon dari diriku ato bagian seasonal environmentalist aja yang merasa terpanggil ... tapi diriku sendiri sebagai manusia juga terpanggil ...
Ini adalah panggilan terakhir kepada seluruh manusia, untuk menentukan ke arah mana pesawat yang kita kendarai bersama ini akan menuju ... surga (dengan menyetujui peraturan lingkungan yang lebih ketat dari piagam Kyoto) atau neraka (membiarkan negara2 industri mempengaruhi keputusan sehingga polusi makin tidak terkendali) ...
dan panggilan terakhir itu bernama UN Climate Change Summit yang akan diadakan di Copenhagen bulan Desember 2009.
Bahkan sebelum bikin video ini pun, aku sempatkan untuk mendaftarkan diriku sendiri dalam petisi Oxfam ini.
Mungkin secara kreatifitas konsep dan ide masih kurang lah ...
Tapi aku membuat video ini bukan karena ingin pamer kreatifitas (yang sebenernya nggak seberapa juga sih) ...
Aku membuat video ini hanya karena ingin menyampaikan sebuah pesan ...
bahwa Bumi ini telah sampai di titik hidup dan mati, ... dan saatnya kita benar-benar bertindak untuk menolongnya ...
Jadi untuk siapa saja yang mengunjungi postingan ini, ... coba deh lihat video saya, dan kunjungi link ke oxfam, ... daftarkan namamu disana dan pastikan dirimu mengambil bagian dari usaha untuk menolong bumi kita semua.
Terima kasih.
March 04, 2009
Economy after crisis (part 2)
... this is just one of my bathroom epiphany though...
Mengingat prediksi bagaimana ntar bisnis yang bertahan hanya yang the really powerfull giants dan the really agile micros ... dan juga karena aku into conspiracy theory ...
Mungkin nggak sih kalau semua ini sudah direncanakan? Terutama oleh those powerfull giants ... maksudku, para pelaku bisnis disana kan udah pasti punya degrees in economics and/or management ... masa segitu bodohnya dalam management sampe put their company in jeopardy?
Bagaimana jika jatuhnya Lehman Brothers memang disengaja?
Kita semua tahu ekonomi di dunia barat sudah stagnan. Tidak ada pertumbuhan berarti karena pasarnya udah stagnan. Bisnis stuck di point itu. Mereka kemudian menjadi kapitalis di negara-negara berkembang seperti Indonesia, Filipina, Malaysia, Thailand yang pasarnya masih tumbuh, thanks to its huge population and natural resources. Tapi ada macan2 ekonomi asia. China, Korea, Jepang dan India. Produk2 mereka cukup kompetitif dan secara lokasi lebih dekat ke market negara-negara berkembang itu.
Product, Price dan Place udah ga bisa bersaing. Masa bisa menang di Promotion thok?
Akhirnya as an act of despair, mereka mengguncang ekonomi sekali lagi. Merontokkan giants2 yang keropos dan menyingkirkan mediocre2 yang nggak perlu supaya ketika economy udah stable lagi. These powerfull giants bisa mencaplok pasar2 dan ruang bisnis2 yang udah agak lega. Mengembangkan bisnis mereka sekali lagi.
Hmmm should I call this strategy "Turning red ocean into blue ocean"? hahaha
gila emang ... yeah but that's just my theory. a rationalised imagination.
kejam? yah, bisnis emang kejam nak.
gimana dengan jutaan orang yang terancam pekerjaannya? ah emang mereka pikirin? kan those elite ones nggak terlalu terganggu dengan krisis begini.
serakah? pasti!
Makanya ... yang kaya makin kaya ... yang miskin makin miskin ...
gila!
Mengingat prediksi bagaimana ntar bisnis yang bertahan hanya yang the really powerfull giants dan the really agile micros ... dan juga karena aku into conspiracy theory ...
Mungkin nggak sih kalau semua ini sudah direncanakan? Terutama oleh those powerfull giants ... maksudku, para pelaku bisnis disana kan udah pasti punya degrees in economics and/or management ... masa segitu bodohnya dalam management sampe put their company in jeopardy?
Bagaimana jika jatuhnya Lehman Brothers memang disengaja?
Kita semua tahu ekonomi di dunia barat sudah stagnan. Tidak ada pertumbuhan berarti karena pasarnya udah stagnan. Bisnis stuck di point itu. Mereka kemudian menjadi kapitalis di negara-negara berkembang seperti Indonesia, Filipina, Malaysia, Thailand yang pasarnya masih tumbuh, thanks to its huge population and natural resources. Tapi ada macan2 ekonomi asia. China, Korea, Jepang dan India. Produk2 mereka cukup kompetitif dan secara lokasi lebih dekat ke market negara-negara berkembang itu.
Product, Price dan Place udah ga bisa bersaing. Masa bisa menang di Promotion thok?
Akhirnya as an act of despair, mereka mengguncang ekonomi sekali lagi. Merontokkan giants2 yang keropos dan menyingkirkan mediocre2 yang nggak perlu supaya ketika economy udah stable lagi. These powerfull giants bisa mencaplok pasar2 dan ruang bisnis2 yang udah agak lega. Mengembangkan bisnis mereka sekali lagi.
Hmmm should I call this strategy "Turning red ocean into blue ocean"? hahaha
gila emang ... yeah but that's just my theory. a rationalised imagination.
kejam? yah, bisnis emang kejam nak.
gimana dengan jutaan orang yang terancam pekerjaannya? ah emang mereka pikirin? kan those elite ones nggak terlalu terganggu dengan krisis begini.
serakah? pasti!
Makanya ... yang kaya makin kaya ... yang miskin makin miskin ...
gila!
February 27, 2009
Economy after crisis ...
Seorang teman cerita, banyak perusahaan-perusahaan di negara maju (as dan eropa) yang kolaps. Terutama yang medium-sized company. Obvious. Perusahaan micro sangat fleksibel menghadapi dinamika ekonomi yang gila ini. Sementara the "giants" punya fondasi finansial dan network yang kuat. Yang jadi masalah ya medium-sized company ini. Mereka terlalu besar untuk lincah menangkis gelombang2 ekonomi yang tidak menentu. Tapi terlalu kecil untuk menghadapi the economic's tsunami.
Aku jadi ingat, dulu pernah dengarkan ceramahnya pak san (my ex boss) tentang ramalan ekonomi masa depan (apakah diambil dari buku long tail ya?). Mediocre is a no-no ... Lalu, apakah ekonomi kita sedang dalam proses untuk membuktikan asumsi itu?
Produk harus berada di salah satu polar ekonomi. Sementara kualitas adalah suatu hal yang tak perlu di pertanyakan lagi ... karakter produk harus bener-bener mass dan murah atau bener-bener eksklusif dan mahal. There's no in between stuff. Or at least they wont survive for long.
... hmm ... thesis yang menarik ...
i'll go googling and come back to this another day ...
Aku jadi ingat, dulu pernah dengarkan ceramahnya pak san (my ex boss) tentang ramalan ekonomi masa depan (apakah diambil dari buku long tail ya?). Mediocre is a no-no ... Lalu, apakah ekonomi kita sedang dalam proses untuk membuktikan asumsi itu?
Produk harus berada di salah satu polar ekonomi. Sementara kualitas adalah suatu hal yang tak perlu di pertanyakan lagi ... karakter produk harus bener-bener mass dan murah atau bener-bener eksklusif dan mahal. There's no in between stuff. Or at least they wont survive for long.
... hmm ... thesis yang menarik ...
i'll go googling and come back to this another day ...
November 12, 2008
Push the button
Sekilas tentang Hot Button Marketingnya Barry Feig.
Buku ini mengulas tentang 'pintu' apa aja yang bisa dimasuki para marketer untuk mendapatkan perhatian penuh konsumennya.
Kalau dihubungkan dengan the notorious AIDA (Attention, Interest, Desire, Action) ... ke 16 Hot Button ini mengulik tentang aspek-aspek kebutuhan psikologis yang bisa nyenggol somewhere between Interest dan Desire (yang sebenarnya buat aku agak2 ga jelas juga batesannya dimana).
The buttons are ...
#1 Desire for control
#2 I'm better than you
#3 Excitement for discovery
#4 Revaluing
#5 Family values
#6 Desire to belong
#7 Fun (is it's own reward)
#8 Poverty of time
#9 Desire to get the best
#10 Self-achievement
#11 Sex, Love, Romance
#12 Nurturing response
#13 Re-inventing one-self
#14 Make me smarter
#15 Power, Dominance, Influence
#16 Wish fulfillment
Beberapa aspek dari button-button ini memang sepertinya overlapping in a way, tapi dibedakan juga akhirnya untuk alasan yang tepat, yang aku duga supaya nggak asal pukul rata (generalisasi). Bagusnya, aspek-aspek button ini lumayan applicable melewati batas budaya dan karakteristik suatu bangsa, karena ini menyangkut basic human desire.
Tapi human desire kan nggak mungkin cuman 16 ini aja, yang berarti kemungkinan untuk mengeksplor celah-celah menuju perhatian konsumen itu tanpa batas, seluas dan sekompleks dimensi psikologis manusia.
Nevertheless, gagasan Barry Feig ini bisa jadi inspirasi untuk menformulasikan strategi marketing yang lebih tepat sasaran.
Sekarang tinggal pilih, mau tekan button yang mana yang cocok dengan karakteristik produk dan karakteristik market.
Buku ini mengulas tentang 'pintu' apa aja yang bisa dimasuki para marketer untuk mendapatkan perhatian penuh konsumennya.
Kalau dihubungkan dengan the notorious AIDA (Attention, Interest, Desire, Action) ... ke 16 Hot Button ini mengulik tentang aspek-aspek kebutuhan psikologis yang bisa nyenggol somewhere between Interest dan Desire (yang sebenarnya buat aku agak2 ga jelas juga batesannya dimana).
The buttons are ...
#1 Desire for control
#2 I'm better than you
#3 Excitement for discovery
#4 Revaluing
#5 Family values
#6 Desire to belong
#7 Fun (is it's own reward)
#8 Poverty of time
#9 Desire to get the best
#10 Self-achievement
#11 Sex, Love, Romance
#12 Nurturing response
#13 Re-inventing one-self
#14 Make me smarter
#15 Power, Dominance, Influence
#16 Wish fulfillment
Beberapa aspek dari button-button ini memang sepertinya overlapping in a way, tapi dibedakan juga akhirnya untuk alasan yang tepat, yang aku duga supaya nggak asal pukul rata (generalisasi). Bagusnya, aspek-aspek button ini lumayan applicable melewati batas budaya dan karakteristik suatu bangsa, karena ini menyangkut basic human desire.
Tapi human desire kan nggak mungkin cuman 16 ini aja, yang berarti kemungkinan untuk mengeksplor celah-celah menuju perhatian konsumen itu tanpa batas, seluas dan sekompleks dimensi psikologis manusia.
Nevertheless, gagasan Barry Feig ini bisa jadi inspirasi untuk menformulasikan strategi marketing yang lebih tepat sasaran.
Sekarang tinggal pilih, mau tekan button yang mana yang cocok dengan karakteristik produk dan karakteristik market.
Subscribe to:
Posts (Atom)
